Beranda / Teknologi / Edukasi Gizi Diperkuat, BRIN dan DPR RI Soroti Risiko Konsumsi Makanan Kemasan

Edukasi Gizi Diperkuat, BRIN dan DPR RI Soroti Risiko Konsumsi Makanan Kemasan

Bandar Lampung — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Komisi X menggelar Bimbingan Teknis Analisis Gizi Makanan Kemasan di Graha Bintang Universitas Malahayati, Minggu (19/04/2026). Kegiatan ini menegaskan urgensi peningkatan literasi gizi masyarakat di tengah meningkatnya ketergantungan terhadap makanan kemasan.

Anggota DPR RI Komisi X, Muhammad Kadafi, menyampaikan bahwa pemahaman terhadap komposisi gizi menjadi fondasi penting dalam membentuk pola konsumsi yang sehat dan berkelanjutan. Ia menilai, edukasi gizi tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga mampu meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Pengetahuan komposisi gizi dapat membantu masyarakat menentukan pilihan konsumsi yang tepat, sekaligus menjadi nilai tambah bagi pelaku usaha dalam membangun kepercayaan konsumen,” ujarnya.

Ia menambahkan, penguatan literasi gizi perlu terus didorong agar masyarakat semakin cermat dan selektif dalam memilih produk pangan yang beredar luas di pasaran.

Sementara itu, Peneliti BRIN, Ni Ketut Artastami, menekankan bahwa makanan kemasan kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup modern. Perubahan pola konsumsi, menurutnya, dipengaruhi oleh urbanisasi, tuntutan kepraktisan, serta kemudahan akses terhadap produk pangan olahan.

“Makanan kemasan bukan sekadar produk industri, melainkan telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat,” jelasnya.

Ia menguraikan bahwa makanan kemasan memiliki spektrum tingkat pengolahan yang luas, mulai dari produk minim proses hingga ultra-processed food (UPF) yang mengandung berbagai bahan tambahan seperti perasa, pewarna, dan pengawet.

Di satu sisi, makanan kemasan memberikan sejumlah manfaat, seperti peningkatan keamanan pangan, efisiensi distribusi, serta fortifikasi gizi. Namun di sisi lain, konsumsi berlebihan terhadap kandungan gula, garam, dan lemak menjadi faktor risiko utama berbagai penyakit tidak menular.

“Risiko utama bukan terletak pada produknya, melainkan pada pola konsumsi yang berlebihan,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa tingginya konsumsi makanan kemasan juga dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti harga yang relatif terjangkau, gaya hidup praktis, rendahnya literasi gizi, serta masifnya paparan iklan produk.

Melalui kegiatan ini, BRIN bersama DPR RI Komisi X mendorong peningkatan kapasitas masyarakat dalam memahami, memilih, dan mengonsumsi makanan kemasan secara bijak sebagai langkah preventif menjaga kesehatan di tengah dinamika pola hidup modern.

Tinggalkan Balasan

-----------------------------------------------------------------------