Lampung Selatan, MANAKALANEWS.COM – Warga Perumahan Permata Asri, Desa Karang Anyar, Lampung Selatan, masih bergulat dengan krisis air bersih yang tak kunjung terselesaikan sejak awal 2024. Meski telah menyampaikan keluhan secara resmi melalui DPRD Lampung Selatan, Rosdiana, hingga surat kepada bupati saat itu, Nanang Ermanto, belum ada langkah konkret dari pemerintah daerah.
Masalah utama terletak pada minimnya debit air. Warga hanya menerima aliran dua hari sekali dengan tekanan sangat rendah, bahkan sebagian jaringan tidak mengalir sama sekali. Ironisnya, tagihan tetap berjalan meski air tak kunjung mengalir, memaksa sebagian warga memutus sambungan.
Di tengah keterbatasan, warga harus membeli air tangki seharga Rp60 ribu yang hanya cukup untuk kebutuhan dua hari. Padahal, solusi teknis sebenarnya telah ada. PDAM Way Rilau menyatakan siap menyuplai air dari wilayah Fajar Baru, namun realisasinya terganjal persetujuan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan.
Dengan jumlah lebih dari 2.500 KK, kebutuhan air bersih di kawasan ini seharusnya menjadi prioritas. Warga kini menanti sikap tegas pemerintah, dan membuka kemungkinan kembali mengajukan permohonan kepada bupati baru, Radityo Egi Pratama.
Bagi warga, tuntutannya sederhana: akses air bersih yang layak, lancar, dan adil—hak dasar yang hingga kini belum terpenuhi. (Red)






















